Selasa, 16 Desember 2014


Nama saya Yopi, saya dilahirkan di desa Tertap, salah satu desa di kota pagaralam Provinsi Sumatera Selatan, bisa dibilang orang palembang gitu ibukotanya.
Orang tua saya, orang yang cukup bijak, karena dengan bijaknnya sudah melaksanakan program pemerintah melalui KB tapi KB di keluarga kami Keluarga Besar bukan Keluarga Berencana, kalau kata pemerintah cukup 2 saja tapi menurut orang tua saya cukup dua....belas saja (12), katanya sih banyak anak banyak rejeki???


Waktu itu menurut umak (ibu) kami, kami merupakan keluarga yang utuh dan bahagia, namun sejak Bapang (bapak) kami meninggalkan kami menghadap ke Ilahi, semua jadi berubah, semua tugas dan beban orang tua, jadi diemban oleh umak saya sendiri.
Waktu itu umur saya 2,5thn, saya tidak mengenal sosok Bapak Saya sama sekali, belum dapat merasakan perhatian dan kasih sayang dari seorang Bapak, kesemuaan itu hanya saya dapatkan dari sosok umak saya seorang diri.
Ibu saya yang biasa kami panggil umak adalah sosok ibu yang tangguh, bagaimana tidak, saat menjadi single parent (orang tua tunggal) kami ber-12 saudara masih kecil-kecil dan dalam hidup serba kekurangan, namun Ibu kami masih bisa menyekolahkan anak-anaknya, kami ber12 tidak ada yang putus sekolah paling tidak bisa menamatkan sekolah menengah tingkat atas (SMA).
Syukur alhamdulillah atas barokahNYA, lambat laun, masa sulit pelan-pelan bisa terlewati, kehidupan keluarga kami semakin membaik walau juga tidak berlebih. Apalagi sampai sekarang sosok Ibu yang  teramat kami sayangi diusianya yang semakin senja (80thn-an) masih diberikan kesehatan, sehingga kami masih punya waktu berbakti dan dapat berbuat untuk membahagiakannya (bukannya surga ada di telapak kaki ibu), bagiku itu semua anugerah yang tak terhingga dari yang maha kuasa kepada keluarga kami.

“Ibu…
Betapa berat hari-hari yang kau jalani…
Butiran keringat dan darah bercucuran bahkan tidak kau hiraukan…
Kau habiskan waktumu untuk menjaga, membesarkan dan mendidik kami…
Semua yang kau lakukan hanya untuk kebahagian kami anakmu…

Ibu…
Tetaplah menjadi yang terbaik untuku
Tanpamu apalah arti sebuah kehidupan,
hampa yang aku bisa rasa…

Ibu…
Maafkan anakmu ini, yang belum bisa membahagiakanmu…
Namun saya akan bertekad tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu…
Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu sebelum itu terjadi…
Karena Ibu sgala-galanya buatku…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar