Nama saya Yopi, saya dilahirkan di desa Tertap, salah satu
desa di kota pagaralam Provinsi Sumatera Selatan, bisa dibilang orang palembang
gitu ibukotanya.
Orang tua saya, orang yang cukup bijak, karena dengan
bijaknnya sudah melaksanakan program pemerintah melalui KB tapi KB di keluarga
kami Keluarga Besar bukan Keluarga Berencana, kalau kata pemerintah cukup 2 saja
tapi menurut orang tua saya cukup dua....belas saja (12), katanya sih banyak
anak banyak rejeki???
Waktu itu menurut umak (ibu) kami, kami merupakan keluarga
yang utuh dan bahagia, namun sejak Bapang (bapak) kami meninggalkan kami
menghadap ke Ilahi, semua jadi berubah, semua tugas dan beban orang tua, jadi
diemban oleh umak saya sendiri.
Waktu itu umur saya 2,5thn, saya tidak mengenal sosok Bapak
Saya sama sekali, belum dapat merasakan perhatian dan kasih sayang dari seorang
Bapak, kesemuaan itu hanya saya dapatkan dari sosok umak saya seorang diri.
Ibu saya yang biasa kami panggil umak adalah sosok ibu yang
tangguh, bagaimana tidak, saat menjadi single
parent (orang tua tunggal) kami ber-12 saudara masih kecil-kecil dan dalam
hidup serba kekurangan, namun Ibu kami masih bisa menyekolahkan anak-anaknya, kami
ber12 tidak ada yang putus sekolah paling tidak bisa menamatkan sekolah
menengah tingkat atas (SMA).
Syukur alhamdulillah atas barokahNYA, lambat laun, masa sulit
pelan-pelan bisa terlewati, kehidupan keluarga kami semakin membaik walau juga
tidak berlebih. Apalagi sampai sekarang sosok Ibu yang teramat kami sayangi diusianya yang semakin
senja (80thn-an) masih diberikan kesehatan, sehingga kami masih punya waktu
berbakti dan dapat berbuat untuk membahagiakannya (bukannya surga ada di telapak kaki ibu), bagiku itu semua anugerah yang
tak terhingga dari yang maha kuasa kepada keluarga kami.
“Ibu…
Betapa berat hari-hari yang kau jalani…
Butiran keringat dan darah bercucuran bahkan tidak kau hiraukan…
Kau habiskan waktumu untuk menjaga, membesarkan dan mendidik kami…
Semua yang kau lakukan hanya untuk kebahagian kami anakmu…
Ibu…
Tetaplah menjadi yang terbaik untuku
Tanpamu apalah arti sebuah kehidupan,
hampa yang aku bisa rasa…
Ibu…
Maafkan anakmu ini, yang belum bisa membahagiakanmu…
Namun saya akan bertekad tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu…
Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu sebelum itu terjadi…
Karena Ibu sgala-galanya buatku…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar